Sabtu, 19 Februari 2011

PULO GADUNG - Kami Terpisah Disini

"Mba... aku haus..." rengek Aldi, bocah kecil berusia 3 tahun.

"Sabar ya, De.." Risa merogoh sakunya seraya mengeluarkan uang kertas ribuan dan beberapa uang receh.

"Dua belas ribu rupiah... hmmm ibu bilang ongkos dari sini ke rumah paman per orangnya 5000, kalau berdua... berarti aku masih punya sisa uang 2000... mungkin bisa beli air mineral.." ucap Risa dalam hati.


"De, kamu pegang uang ini ya.. nanti kalau ada kondektur yang bertanya kamu kasih uang ini buat bayar bis ya" ujar Risa memberikan 10 lembar uang seribuan.

"Mba Risa mau kemana??" tanya Aldi dengan suara cadel-nya.

"Mba mau beli minuman dulu... kamu tunggu disini ya.. mba nggak jauh kok cuma disana" ucap Risa sambil; menunjuk ke arah pedagang asongan yang berada di luar bis. Aldi menggukan kepalanya.

Risa pun turun dari bis meninggalkan Aldi sendiri. Ia berjalan menghampiri pedagang asongan yang berada dibelakang bis dekat halte. Ternyata ia masih punya uang lebih. Risa pun sibuk memilih-milih permen hendak ia berikan kepada Aldi. "Aldi pasti suka.."pikirnya.  Setelah ia ketemu permen yang Aldi suka, ia langsung memberikan uangnya. Namun saat ia membalikkan badannya, ia tidak melihat bis yang tadi ia naiki ada di belakangnya.

"Pak... bis yang tadi disni kemana ya??" tanya Risa mulai panik.

"Baru aja berangkat... tuh dia" ujar bapak-bapak yang duduk di dekat tempat bis terparkir, sambil menunjuk ke arah Bis yang sudah melaju dengan kencang.

"Ya Allah.... TUNGGU... TUNGGU...." teriak Risa.

Rabu, 23 Juni 2010

Satu Permintaan

Syaiful turun dari mobilnya dan memandang sebuah rumah dihadapannya.Rumah sederhana berhunikan anak-anak yang menunggu uluran tangan para dermawan. Ia memandang tulisan besar di tembok rumah tersebut "PANTI ASUHAN NURUL JANNAH"

Syaiful bukan satu-satunya orang yang hadir di rumah itu. Banyak mobil-mobil mewah terparkir disana dengan membawa berbagai bingkisan untuk anak-anak panti tersebut. Mungkin sudah menjadi tradisi bagi penghuni panti mendapatkan berbagai santunan di bulan Ramadhan. Orang berlomba-lomba untuk membagikan rejeki dan kebahagian kepada mereka. Ada yang bawa beras, susu, sepatu, baju lebaran bahkan sampai segala makanan untuk berbuka selalu ada setiap hari.

"Hmm... apa yang harus aku berikan ke mereka ya?? Rasanya semua sudah mereka dapatkan.. Tapi aku harus memberikan sesuatu..." sambil bergumam Syaiful memperhatikan satu persatu bentuk bantuan yang diberikan oleh orang-orang dermawan tersebut. Seketika terlintas di otaknya untuk memberikan peralatan sekolah bagi mereka,"Pastinya barang tersebut akan bermanfaat untuk mereka".

Syaiful pun meminta daftar anak yang berada di panti asuhan tersebut. Ia pun mendata kebutuhan peralatan sekolah bagi mereka. Tanpa mengulur waktu ia segera membelanjakan uangnya membeli kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Keesokkan harinya, dengan hati penuh keikhlasan ia membagikan satu persatu peralatan sekolah yang sudah ia beli. Tampak binar mata bahagia diwajah anak-anak yatim itu saat menerima pemberian dari Syaiful. Senyum di wajah Syaiful pun mengembang lebar, ia merasakan kebahagiaan tersebut. Rasanya tidak ada hal terindah dalam hidupnya selain melihat kebahagian terpancar di wajah-wajah lugu anak-anak penghuni panti.

Namun tiba-tiba senyum Syaiful terhenti mengembang. Keningnya sedikit berkerut saat melihat tatapan mata yang berbeda dari seorang gadis mungil dan cantik. Gadis kecil itu berdiri disampingnya. Matanya menatap Syaiful seolah hendak mengatakan sesuatu. Awalnya Syaiful tak berani menegurnya, "Mungkin hanya tatapan biasa", pikir Syaiful. Namun ada sesuatu yang mengetuk pintu hatinya untuk membelai rambutnya.

Minggu, 23 Mei 2010

Maafkan aku, Bunda

Bunda, Setiap malam aku duduk dihadapan komputerku hendak menuliskan kata-kata indah untukmu agar bibirmu merentang senyum membacanya. Tapi.... Aku tak sanggup memulai menuliskan kata indah itu. Tak satupun kata indah hadir di benakku untukmu.. Bukan.. Bukan karena kau tak indah... hanya karena kata indah itu tak sebanding dengan segala keindahan yang kau berikan padaku...

Selasa, 21 Juli 2009

BOOOMMSSSS....

"Kamu sudah siap, Rin??" tanya Rafi kepada Ririn sambil mengunci ranselnya yang telah siap ia kemas.

Airmata Ririn perlahan mengalir dipipinya. Rafi menghela nafas berat, lalu menghampiri Ririn dan menghapus airmatanya dengan lembut.

"Jangan takut.... aku mengerti perasaanmu. Kita hanyalah orang-orang lemah yang tertindas. Jika kita melakukan tugas kita, kita telah menyelamatkan sebagian nyawa orang-orang yang tak berdosa di desa kita" ujar Rafi menguatkan hati Ririn.

"Tapi haruskah kita mengorbankan sebagian lagi nyawa orang-orang yang tak bersalah???" Ririn bicara diantara isak tangisnya.

Tangan Rafi pun turun menggenggam tangan Ririn dengan erat. Ia tahu bagaimana perasaan Ririn saat ini, karena ia pun merasakan hal serupa.

"Kamu tahu kan... Kita tidak bisa memilih. Sekalipun kita menolak, mereka tetap akan melakukan tugas kita setelah membumi hanguskan desa kita. Semoga Tuhan mengampuni kita, Rin" ucap Rafi dengan lirih.

Senin, 29 Juni 2009

Suryadinata

"Aku sudah tidak cinta lagi sama kamu… Jelas ga sih?? Lepaskan !!!"

"Aku ngga peduli dengan ucapanmu.. Mulutmu bisa berkata seperti itu, tapi aku tidak melihat kejujuran dimatamu"

"Jangan sok tau deh… Lepaskan tanganku !! Aku sudah tidak ada waktu lagi untuk menanggapi ocehanmu itu"

"Tidak… Aku tidak akan melepaskannya" Rangga menarik lengan Dinda dan memegang erat bahunya,"Sekarang lihat mataku!! Katakan jika memangkau tidak mencintaiku lagi". Ditatapnya mata Dinda dengan tajam. Rangga mencoba mencari kekuatan cinta Dinda yang dulu pernah ia rasakan.